Diposkan   26 September 2013   00:00   Sarmikab   Berita

Pembangunan Infrastruktur Transportasi Mendukung Konektivitas Wilayah Papua

PAPUA - Pembangunan  infrastruktur  transportasi  tengah gencar dilaksanakan di Provinsi Papua untuk mendukung konektivitas wilayah, yang meliputi transportasi darat, laut, dan udara. Berbagai pembangunan infrastruktur tersebut menyerap sekitar 500 ribu tenaga kerja dan mendorong masuknya investasi dalam tiga tahun terakhir mencapai Rp 10 triliun yang bergerak di sektor perhotelan, restoran, mall, toko elektronik, bengkel mobil, restoran,perkebunan kakao, dan lain sebagainya.

Berbagai  pembangunan infrastruktur transportasi di Provinsi Papua dalam tiga tahun terakhir (2010 – 2012) berdampak positif  dalam penyerapan tenaga kerja dan penyerapan investasi. Sepanjang tahun 2010 – 2012, total tenaga kerja yang terserap sekitar 500.000 orang yang terserap dalam pembangunan infrastruktur transportasi secara langsung  maupun dampak ekonomi dari pembangunan tersebut.

Penyerapan tenaga kerja tersebut secara  garis besar dibagi menjadi dua bagian yakni 60% tenaga kerja tersebut adalah penduduk asli Papua, sedangkan 40% berasal dari luar Papua. Tenaga kerja itu terserap dalam pembangunan  Jalan Trans Papua, pelabuhan, bandara serta tumbuhnya hotel, mall, toko elektronik, bengkel mobil, restoran, perkebunan kakao, dan lain sebagainya yang merupakan dampak pembangunan infrastruktur transportasi.

Jumlah tenaga kerja sebanyak 500.000 orang itu akumulasi dari tahun 2010 sebanyak 150.000 orang, tahun 2011 sebanyak 100.000 orang, dan tahun 2012 sebanyak 250.000 orang. Dari total 500.000 orang  tersebut sebanyak  200.000 orang terserap dalam pembangunan Jalan Trans Papua, sebanyak 100.000 orang terserap dalam pembangunan pengembangan Pelabuhan Jayapura, Bandara Sentani, proyek pembangkit listrik tenaga uap dan hotel, serta sebanyak  200.000 orang  terserap  bekerja di mall, toko elektronik, restoran, bengkel, perkebunan dan sebagainya. Penyerapan tenaga kerja ini akan terus bertambah mengingat pembangunan infrastruktur transportasi masih terus berlangsung di tahun-tahun mendatang, begitu juga berbagai pembangunan

Manfaat pembangunan  infrastruktur antara lain dinikmati warga Desa Koya Barat, Kecamatan Muara Tami , yang berpenduduk 2.300 KK atau 5.000 jiwa. Semula banyak warganya yang bermata pencaharian sebagai buruh tani dan sebagian menganggur, kini mereka memperoleh nafkah dari bekerja di proyek pembangunan Jalan Trans Papua dan proyek pembangkit listrik tenaga uap, sehingga taraf ekonomi  mereka meningkat.

Selain itu tersedianya infrastruktur transportasi di Papua yang cukup memadai menjadi daya tarik bagi investor. Dalam tiga tahun terakhir investasi yang masuk ke Papua mencapai sekitar Rp 10 triliun yang bergerak di sektor hotel, mall, elektronika, restoran, perkebunan kakao, perkebunan kopi, bengkel mobil, dan lain sebagainya. Tahun 2010  investasi  yang  masuk ke Papua sebesar Rp 2,5 triliun  untuk sektor hotel dan restoran. Tahun 2011 investasi  yang masuk ke Papua sebesar Rp 3 triliun yang bergerak di sektor mall, toko elektronik, dan perkebunan kakao. Tahun 2012 investasi  sebesar Rp 4,5 triliun  yang bergerak di sektor hotel, bengkel mobil, toko elektronika, perdagangan kebutuhan pokok, dan lain sebagainya.

Semaraknya investasi di Papua selain didukung infrastruktur transportasi  juga didukung  mudahnya  perizinan dan  situasi keamanan yang kondusif alias nyaman. Perkembangan investasi yang mencolok antara lain dapat dilihat di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, di mana saat ini bermunculan sejumlah hotel, mall, kafe, restoran, dan bengkel mobil baru.

Jalan  Trans  Papua  menjadi  urat  nadi   konektivitas atau keterhubungan Papua dan Papua Barat.  Dalam pembangunan Jalan Trans Papua periode 2009 – 2014, pemerintah melalui  Kementerian Pekerjaan Umum mengalokasikan anggaran Rp 24,92 triliun, dengan rincian  Rp 1,41 triliun (2009), Rp 2,12 triliun (2010), Rp 3,15 triliun (2011), Rp 6,90 triliun (2012), Rp 4,57 triliun (2013), dan Rp 6,75 triliun (2014). Panjang total  Jalan  Trans  Papua  3.421,488  km  yang  terdiri dari 2.434,860 km di Papua dan 986,628 km di Papua Barat.  Dari total panjang  Jalan Trans Papua 3.421,488 km tersebut jalan yang sudah tembus sepanjang  2.883,408  km  atau 84,27%  dan  yang  dalam  proses  pembangunan  sepanjang  638,080 km atau 15,73%.

Adapun jalan yang telah tembus yakni Sorong-Manokwari 606,166 km, Maruni – Windesi 263,594 km, Nabire – Wagete 259,772 km, Dekai – Oksibil 50 km, Oksibil – Merauku 649,633 km,  Jayapura – Sarmi 326,757 km, Dekai – Kenyam 155 km,  Fakfak – Bomberay  217,283 km, Timika – Potowaiburu 110 km, Wamena – Mulia 120,417 km, Holtekamp – Skow 38,990 km, dan lain-lain. Sedangkan  jalan  yang  masih  dalam proses pembangunan    meliputi Timika – Kenyam 22 km, Waroupko – Oksibil 30 km, Mamberamo – Elelim 50 km, Sarmi – Sumiangga 40 km, Ubrub – Iwur 50 km, Passvaley –Ampawar 75 km, Kurima – Sumohai 50 km, dan lain sebagainya. Ditargetkan semua jalan tersebut dapat tembus pada tahun 2014.

Pembangunan Jalan Trans Papua mendorong konektivitas pusat-pusat pertumbuhan  ekonomi dan pusat produksi, sehingga melancarkan arus barang dan jasa. Hadirnya jalan  Trans Papua juga untuk memudahklan keterhubungan antar kota yang semula melalui jalur udara, kini bisa melalui jalur darat, sehingga berdampak kepada harga barang di pasar yang lebih murah. Selain itu Jalan Trans Papua juga bertujuan untuk membuka daerah terisolir dan mengatasi kesenjangan pemba-ngunan antar wilayah.

Pembangunan jalan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh, beberapa tahun lalu harga semen di Mulia, Puncak Jaya, mencapai Rp 1 juta-Rp 2 juta per zak saat mengandalkan transportasi udara. Kini setelah sejumlah jalan telah dibangun pengangkutan semen dapat dilakukan melalui jalan darat  dan harga  semen telah turun menjadi Rp 100.000-Rp 200.000 per zak.

Berdasarkan pengamatan di  lapangan, salah satu ruas jalan yang sudah tembus tahun 2011 adalah Jalan Jayapura – Sarmi 326,7 km yang dapat ditempuh dengan waktu 9 jam yang sebelumnya 16 jam. Tembusnya ruas jalan Jayapura – Sarmi telah meningkatkan keterhubungan wilayah sentra perkebunan kakao, kelapa sawit, jeruk dan pinang dengan pusat ekonomi dan pemasaran di Jayapura. Para petani yang semula kesulitan dalam memasarkan hasil kebunnya, kini bisa dengan mudah membawa berbagai komoditi perkebunan menuju ke Jayapura.

Hal ini sebagaimana dirasakan masyarakat Distrik (Kecamatan) Nimbokrang, yang merupakan sentra perkebunan kakao. Sebelum dilakukan pengaspalan, jalan ini berupa jalan tanah dan sebagian kondisinya rusak dan berlubang-lubang, sehingga perjalanan Nimbokrang – Jayapura harus ditempuh selama 4 jam. Kini, rute Nimbokrang – Jayapura hanya ditempuh dalam waktu 2 jam, atau mengalami percepatan hingga 2 jam perjalanan.

Jalan  lain yang  diamati  adalah Jayapura – Holtekamp – Koya – Skow sepanjang  53 km yang  berbatasan  dengan  Papua New Guinea (PNG). Semula  sebagian besar ruas jalan ini rusak  parah,  dan membahayakan pengguna  jalan, lalu dibangun dengan jalan aspal dan  kondisinya  mantap. Ruas jalan ini merupakan akses utama ke lokasi wisata di perbatasan Skow – PNG dan selalu ramai dilewati kendaraan roda rua, mobil, bus, dan truk. Di sepanjang  Jalan  Koya – Skow  di Kampung Koya dan Kampung Skow, Distrik Muara Tami, dalam tiga tahun terakhir  bermunculan para pedagang  pinang, pisang, singkong, ketela pohon, hasil bumi lainnya, pakaian, dan suvenir.

Sebelumnya jumlah pedagang dapat dihitung dengan jari, karena saat itu kondisi jalan rusak dan orang-orang enggan melewatinya.  Usaha  hasil bumi  dilakukan oleh penduduk asli Papua, sedangkan usaha pakaian dan suvenir dilakukan penduduk dari luar Papua. Perputaran uang  dari  perdagangan  hasil  bumi, pakaian, dan suvenir di Koya dan Skow  mencapai  sekitar Rp 200 juta per hari, meningkat tajam dari empat tahun lalu yang sebesar Rp 75 juta.

Sementara itu di bidang transportasi udara  pemerintah mengembangkan Bandara Sentani di Kabupaten Jayapura.  Bandara Sentani  merupakan bandara terbesar kedua di kawasan Indonesia timur setelah Bandara Sultan Hasannudin di Makassar. Bandara Sentani sangat penting karena sebagian besar daerah di Papua harus dijangkau dengan pesawat. Tahun 2011 – 2013 dialokasikan anggaran sebesar Rp 950,510 miliar untuk membangun  apron, taxiway, garbarata, jembatan penghubung antara garbarata dengan terminal kedatangan, pemasangan excalator, gedung operasional, pembangunan  terminal lantai dua, perpanjangan landasan pacu dari 2.500 meter menjadi 3.000 meter, pelapisan landasan pacu, dan lain sebagainya.

Pengembangan Bandara Sentani tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan, kenyamanan, dan keamanan penerbangan. Dengan dibangunnya taxiway memberikan keamanan bagi pesawat yang akan mendarat maupun lepas landas. Sementara itu  manfaat  perluasan  apron  adalah  parkir  pesawat lebih banyak dan lebih luas. Sedangkan manfaat dari pembangunan garbarata  adalah  memberikan  kenyamanan buat penumpang dari pesawat langsung ke terminal dan sebaliknya.

Dua buah garbarata telah dioperasionalkan tahun 2012, dan sebuah garbarata lagi saat ini dalam proses pembangunan. Berbagai pembangunan infrastruktur tersebut berdampak pada meningkatnya jumlah penerbangan. Tahun  2011 Bandara Sentani melayani 100 penerbangan tiap hari baik pesawat besar maupun kecil, dan kini meningkat menjadi 130 – 140 penerbangan atau naik sekitar 40%.
Tersedianya beragam maskapai  pener-bangan membuat tarif dapat ditekan dari sebelumnya tarif  Jayapura – Jakarta mencapai Rp 4 juta – Rp 5 juta kini menjadi Rp 1,8 juta. Seiring meningkatnya jumlah penerbangan, jumlah penumpang pun meningkat, yakni sekitar 700 – 1.000 orang per hari pada tahun 2011, lalu dewasa ini meningkat menjadi sekitar 1.600 – 1.800 orang.

Di  bidang transportasi laut  tahun 2011 – 2012  pemerintah mengembangkan Pelabuhan Jayapura agar bisa lebih banyak menampung kapal angkutan. Pengembangan pelabuhan dilakukan dengan pembangunan dermaga sepanjang 100 meter dengan lebar 23 meter dengan anggaran Rp 60 miliar. Dengan pembangunan baru ini dermaga Pelabuhan Jayapura meningkat menjadi 300 meter dari sebelumnya 200 meter, sehingga bisa didarati kapal pengangkut peti kemas sebanyak 2 kapal dalam waktu bersamaan dari sebelumnya hanya 1 kapal.

Dengan adanya tambahan dermaga tersebut kapal yang semula datang sekali sebulan kini dapat datang 3-4 kali sebulan. Untuk mempercepat bongkar muat pihak Pelabuhan Jayapura telah mengoperasionalkan 1 unit container crane yang berkapasitas 40 ton pada Januari 2012. Bongkar muat peti kemas kini menjadi lebih cepat dari yang semula 1 jam sebanyak 5 box kini meningkat menjadi 30 box.  Selain container crane, fasilitas lain yang tersedia adalah gudang  seluas 446 m², lapangan  penumpukan 20.075 m²,  1 unit mobile crane yang  berkapasitas 25 ton, 1 unit kapal pandu, 1 kapal kepil, instalasi listrik PLN 335,5 KVA dan genset 165 KVA, dan lain sebagainya.

Bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Jayapura dalam tiga tahun terakhir menunjukkan peningkatan, yakni tahun 2010 sebanyak 54.631 teus (kontainer), tahun 2011 sebanyak 55.381 teus, dan tahun 2012 sebanyak 62.581 teus. Sedangkan tahun 2013 ditargetkan sebanyak 70.716 teus dan tahun 2014 diproyeksikan sebanyak 79.909 teus.

Ketersediaan infrastruktur transportasi mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Anne Marike, pedagang pinang, pisang, dan singkong  di pasar tradisional Tio Fun yang berlokasi di Kampung Koya, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, salah  seorang yang merasakan manfaat dari infrastruktur transportasi. Anne telah lima tahun berjualan pinang di pasar tradisional itu dan omsetnya Rp 700.000 per hari, sedangkan tiga tahun lalu omsetnya Rp 300 ribu. Peningkatan omset tersebut disebabkan mantapnya kondisi jalan sehingga ramai dilalui kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. “Dulu jalan  tanah, kondisinya rusak, berlubang-lubang, sehingga sedikit orang yang lewat jalan ini dan jumlah pembeli pun sedikit. Dua tahun lalu jalan diperbaiki menjadi jalan aspal dan sekarang ramai dilewati kendaraan, serta banyak orang yang berbelanja di tempat saya,” kata Anne.

Sementara itu  Eddy Tansil, pengusaha kafe di Entrop, Kota Jayapura, adalah salah seorang pengusaha yang cukup sukses. Pria yang berasal dari Manado itu telah 33 tahun bermukim di Jayapura dan pernah bekerja sebagai kuli dan sopir angkot. Sepuluh tahun lalu Eddy membuka usaha kafe dengan modal pas-pasan yang berasal dari tabungannya sendiri sekitar Rp 25 juta. Pelan tapi pasti usahanya berjalan lancar dan berkembang pesat, dan kini mempekerjakan 8 orang  yang semuanya adalah warga asli Papua. Omsetnya rata-rata mencapai Rp 25 juta – Rp 50 juta per hari.

Tak puas hanya berbisnis makanan dan minuman di kafe, tahun ini Eddy mengembangkan sayap bisnisnya dengan membangun sebuah hotel berbintang tiga di dekat kafenya dengan nilai investasi Rp 200 miliar, dan pembangunannya telah mencapai 50%. Uang untuk membangun hotel berasal dari pinjaman di bank dan tabungannya. Eddy optimis jika hotelnya nanti beroperasi akan banyak yang menginap, karena Jayapura masih kekurangan hotel.

“Kafe dan hotel adalah bisnis yang menguntungkan, karena banyak wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik yang berkunjung ke Jayapura. Para pengusaha merasa nyaman berinvestasi di Papua, khususnya di Jayapura, karena ketersediaan infrastruktur dan situasi keamanan yang nyaman,” katanya.

Dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025  ditetapkan 6 koridor ekonomi Indonesia yang meliputi Koridor Sumatera, Koridor Jawa, Koridor Kalimantan, Koridor Sulawesi, Koridor Bali-Nusa Tenggara, dan Koridor  Papua-Kepulauan Maluku.  Khusus  di  Koridor Papua yang ditetapkan sebagai pusat pangan, perikanan, energi, dan pertambangan  dibangun  berbagai infrastruktur transportasi di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat untuk mendukung konektivitas atau keterhubungan  wilayah, meliputi  pembangunan  Jalan  Trans Papua, pengembangan Bandara Sentani, pengembangan  Pelabuhan  Jayapura, dan lain sebagainya.